Title: Please? [Part 2]
Cast: Kim Taeyeon, Choi Seungcheol, Hwang Minyoung and other
PG: 13
Genre: Romance, Sad, Marriage Life, Friendship
Cast: Kim Taeyeon, Choi Seungcheol, Hwang Minyoung and other
PG: 13
Genre: Romance, Sad, Marriage Life, Friendship
PS: This is the last chapter,
untuk chapter sebelum ini akan di posting setelah beberapa hari chapter ini di
post.
==========================================================================
==========================================================================
Author
POV
Setelah
kejadian itu, Taeyeon terus mengawasi gerak gerik suaminya. Beberapa kali
Taeyeon berpikir bahwa suaminya berselingkuh dengan sahabatnya, Minyoung, tapi
ia tepis pemikiran itu karena ia percaya pada Seungcheol. ‘ Dia bukanlah pria yang seperti itu. ’ pikir Taeyeon suatu ketika.
Siang
itu keduanya makan siang bersama diluar, karena Taeyeon ingin suasana baru dan
segar. Untungnya hari ini libur dan Seungcheol bisa menemani Taeyeon kemana
saja. Keduanya sudah memesan makanan masing-masing dan tinggal menunggu pesanan
mereka datang.
“
Tiba-tiba saja aku ingin makan banyak hari ini. ” celetuk Taeyeon di sela-sela
keheningan diantara keduanya. Seungcheol sedikit terkejut dan terkekeh. “ Kau
sedang mengidam hmm? Makanan apa saja yang ingin kau makan? Aku akan pesankan
sekarang. ” ujar Seungcheol sembari tersenyum dan menggenggam tangan Taeyeon.
Taeyeon
berpikir sejenak, “ Eumm bisakah kita makan di tempat lain? Tiba-tiba aku ingin
mencicipi makanan di setiap restauran terdekat.. ” jelas Taeyeon yang tampak
sekali kelaparan. Diliriknya perutnya yang semakin besar, lalu ia tersenyum. “
Untuk cadangan bayi kita. Jadi aku makan banyak hihi. ” Seungcheol yang
mendengarnya hanya tertawa pelan dan tetap menggenggam tangan istrinya.
Tiba-tiba
terdengar nada dering dari handphone milik Seungcheol. Seketika keduanya
berhenti terkekeh. Seungcheol segera mengambil handphonenya dari saku
celananya. Taeyeon mengamati ekspresi wajah suaminya dengan wajah datar. “
Telpon dari siapa? Angkat saja jika itu penting. ” ujar Taeyeon pelan dan
kemudian ia memandang ke arah lain saat Seungcheol menatap Taeyeon seperti
hendak meminta izin untuk mengangkat telponnya. Tanpa Taeyeon menjawab,
Seungcheol segera berdiri dan berjalan keluar, mengangkat telpon dari
seseorang.
Cemas.
Satu kata yang sangat menggambarkan ekspresi Taeyeon saat ini. Perasaannya
mulai tidak enak. Di usapnya perutnya perlahan, mencoba tenang hanya dengan
merasakan pergerakan bayi yang ada di dalam perutnya. Taeyeon berdoa di dalam
hatinya, semoga perasaan dan dugaannya salah.
Tak
berapa lama Seungcheol kembali ke tempat duduknya, bersamaan dengan itu pula
makanan pun datang. Taeyeon mencoba merubah ekspresi wajahnya dan mulai
menikmati makanannya. “ Sepertinya aku tidak bisa menemanimu... untuk pergi ke
restauran lain dan makan makanan disana. Tiba-tiba ada telpon dari kantor...
dan yah.. ya aku harus ke kantor segera setelah kita selesai makan dan
mengantarmu pulang. Bagaimana? Is that okay? ” ujar Seungcheol di sela-sela
keduanya menikmati makanan. Taeyeon berhenti mengunyah makanannya dan menelan
bulat-bulat makanan yang dimakannya lalu ia segera meminum minumannya.
“
Tidak apa-apa. Kita bisa menggantinya lain hari. Tapi, saat kau pulang nanti,
bawakan aku beberapa makanan, ok? ” Taeyeon tersenyum tipis, berusaha menutupi
rasa kecewanya. Namun, Seungcheol tahu jika istrinya saat ini kecewa. Ia
menggenggam tangan Taeyeon dan mengangguk. “ Aku akan bawakan makanan yang
banyak. Jangan khawatir. ” ujar Seungcheol pada istrinya, dan Taeyeon hanya
mengiyakan.
Kemudian
keduanya melanjutkan makan siang dengan hening. Telpon Seungcheol berdering
sekali lagi. Taeyeon mengamati ekspresi suaminya saat ia mengecek telponnya.
Tanpa meminta izin, Seungcheol pun segera bangkit dan berlari keluar restauran
untuk mengangkat telponnya.
Ia
menarik nafas dalam dan mulai berbicara, “ Ya? Aku sudah katakan tadi, aku
masih menikmati makan siangku dengan istriku. What? Ah.... arraseo. Baiklah,
aku segera kesana setelah mengantar Taeyeon pulang. <klik> ” segera ia
putuskan sambungan telpon. Ia menendang sebuah kaleng cola kosong terdekat dan
bergegas masuk kembali ke dalam restauran. Ia mengubah raut wajahnya, mencoba
tenang dan kembali duduk di hadapan istrinya yang saat ini sudah menyelesaikan
santap siangnya.
“
Kau sudah selesai? Woah cepat sekali. Aigoo our baby looks so hungry. ” ujar
Seungcheol sambil terkekeh menatap
Taeyeon yang hanya tersenyum dan mengusap perutnya pelan. Seungcheol pun
memanggil pelayan dan segera membayar. “ Ayo kita pulang. Bosku benar-benar
merindukanku, sepertinya haha. ” celetuk Seungcheol sekali lagi. Taeyeon pun
hanya mengangguk pelan dan segera berdiri perlahan. Seungcheol merengkuh
pinggang dan lengan Taeyeon dan membantunya bangun. Keduanya pun berjalan
keluar restauran dan segera memasuki mobil. Mobil pun melesat cukup cepat namun
tetap tenang.
Tidak
ada pembicaraan di antara keduanya. Keheningan tercipta. Sangat berbeda dengan
biasanya. Taeyeon hanya memperhatikan jalan raya di seberang jendela mobilnya,
sedangkan Seungcheol hanya fokus menyetir namun pikirannya ada dimana-mana.
Sesampainya di rumah, Taeyeon melarang Seungcheol untuk turun mengantarnya.
“
Kau langsung berangkat saja. Bos mu pasti menunggumu. Aku tidak apa-apa, aku
bisa berjalan sendiri. ” jelas Taeyeon dengan seulas senyuman. Tanpa menunggu
jawaban Seungcheol, Taeyeon segera melepas seatbelt dan membuka pintu, bergegas
masuk ke dalam rumah melalui pintu di samping gerbang besar, tidak menoleh sama
sekali. Seungcheol pun semakin yakin jika istrinya kecewa saat ini. Lalu ia pun
mulai menginjak gas dan bergegas pergi menuju lokasi.
=================================skip====================================
Seungcheol
memasuki sebuah rumah setelah beberapa kali ia menekan bel dan tidak ada
satupun yang merespon. Ia pun membuka pintu setelah menekan beberapa angka. Ia
berjalan masuk dengan perlahan. Melihat suasana isi rumah yang cukup
berantakan, ia yakin betul jika sesuatu baru saja terjadi disini. Ia berjalan ke arah ruang keluarga
yang cukup gelap dan melihat sesosok perempuan duduk terisak di sudut ruangan.
“
Noona? ” Ia berjalan mendekati perempuan itu dan segera duduk di sampingnya.
Perempuan itu masih terisak dan memeluk lengan kakinya. Terlihat penampilannya
sangat kusut dan rambutnya cukup berantakan. Perempuan itu menolehkan wajahnya,
menatap Seungcheol sekejap dan segera memeluk Seungcheol. Ia kembali terisak,
cukup kencang, dan tangisannya terdengar perih. Seungcheol merasa iba padanya.
Ia menepuk–nepuk pelan pundaknya berusaha menenangkan meskipun ia tidak tahu
harus mengatakan apa.
“
Please, uljimma noona. Katakan padaku apa yang terjadi? ” tanya Seungcheol
perlahan. Perempuan yang dipanggilnya noona itu pun berhenti menangis dan
melepaskan pelukannya. Di tatapnya Seungcheol sekilas, kemudian ia pun mulai
bercerita, sesekali ia mencoba menahan tangisannya.
“
Sepertinya... oppa tahu tentang ini. Dia mengamuk tadi saat pulang dari kantor,
dan dia sempat menamparku sekali hiks sakit, dia tidak pernah sekeras itu
padaku. ” kemudian ia menangis lagi sambil memegang pipinya yang terlihat agak
memar dan memerah. Seungcheol mengerutkan keningnya dan menarik nafas dalam
juga memijat pelipisnya pelan.
“
Sepertinya hyung sudah mengamati sejak beberapa hari yang lalu. Kurasa Taeyeon
juga... aku tidak tahu lagi. ” ditariknya nafas dalam-dalam. “ Mianhae, ini
semua gara-gara aku yang memaksamu melakukannya. Aku tahu tidak seharusnya
begitu, aku jahat. Maafkan aku. Aku menyakiti dua orang sekaligus. ” perempuan
itu pun menangis lagi. Seungcheol hanya menghela nafas berat.
Keduanya
terus mengobrol. Seungcheol mencoba menenangkannya. Hingga akhirnya perempuan
itu tertidur di pahanya. Kemudian Seungcheol mengangkatnya, membawanya ke
kamarnya, dan merebahkannya di kasur. Ia pun pamit untuk pulang, namun
tangannya di tahan oleh perempuan itu, dan memintanya untuk tinggal sebentar.
Sekali lagi ia menarik nafas pelan dan segera duduk di lantai dekat kasur,
menemani perempuan itu hingga akhirnya ia tertidur lagi.
==================================skip===================================
Jam
sudah menunjukkan pukul 20:30 KST. Taeyeon tidak berhenti untuk terus mondar
mandir di depan pintu, menunggu kedatangan suaminya. Keningnya terus menerus
mengkerut karena tiap kali ia menelpon suaminya, ia tidak mengangkatnya.
Taeyeon semakin khawatir, takut jika sesuatu terjadi padanya.
Makan
malam yang ia buat pun sudah mulai dingin karena sejak tadi Taeyeon
membiarkannya, sengaja ingin makan malam bersama dengan suaminya. Namun orang
yang ditunggu pun tak kunjung datang. Ia pun tak berselera makan lagi.
Di
usapnya perut buncitnya berkali-kali, mencoba menenangkan diri dan bayinya yang
berkali-kali bergerak dan menendang-nendang perutnya pelan. Bayinya tahu jika
ibunya saat ini sangat khawatir. Taeyeon pun mencoba menelpon Wonwoo, “ Siapa
tahu Seungcheol saat ini sedang mampir ketempatnya. Ya, coba saja. ” ia pun
menelpon Wonwoo.
T: “
Eoh yeoboseyo.. Wonwoo-yya. ”
W: “
Yeoboseyo. Eoh, noona-yya. Tumben kau menelponku malam-malam begini. Ada apa? ”
T: “
Ah begini, apakah Seungcheol bersamamu? Karena ia belum juga pulang sejak sore
tadi. ” Taeyeon berusaha menstabilkan suaranya.
W: “
Tidak noona. Dia tidak kesini sama sekali. Sejak sore? Bukankah biasanya ia
pamit padamu? Uhuk uhuk.. ”
T: “
Ah, sebenarnya aku tahu dia sedang ada urusan dengan Bos nya. Tapi ia tidak
bilang jika akan selama ini. Aku hanya khawatir. Ia tidak mengangkat telponku
sejak tadi. Aku khawatir. ”
W: “
Wah benarkah? Jika iya dengan Bosnya, mungkin ia akan segera mengangkat
telponmu noona. Mungkin ia sedang ada rapat dadakan dengan Bosnya. Semoga dia
baik-baik saja. ”
T: “
Hmm baiklah kalau begitu. Ahh, kau sedang sakit? Jangan lupa makan dan minumlah
obatmu. Stay warm Wonwoo-yya. Kalau begitu aku akan mencoba menelponnya lagi. ”
jelas Taeyeon, ia masih ekstra khawatir.
W: “ Ah hanya batuk biasa noona
haha. Terima kasih karena masih sempat mengkhawatirkanku, noona. Semangat!
Tetap berpikir positif. Annyeong noona. ”
Taeyeon pun hanya menganggukkan kepalanya dan segera mengucapkan terima kasih
pada Wonwoo. Telpon pun terputus.
Taeyeon
segera menelpon suaminya lagi. Tidak di angkat. Taeyeon pun mengambil kursi di
meja makannya dan meletakkannya tepat di dekat pintu masuk. Ia sangat cemas,
dan tidak terasa jam pun menunjukkan pukul 21:00 KST. Di tariknya nafas
dalam-dalam, rasanya ia pun ingin menangis karena khawatir.
Kemudian
ia mendengar suara mobil yang familiar berhenti tepat di depan rumahnya.
Taeyeon pun bangkit dari tempat duduknya dan ingin segera membuka pintu, tapi
ia tahan, takut jika itu bukan suaminya. Benar saja, itu adalah suaminya.
Seungcheol
pun segera menekan tombol password dan membuka pintu. Dilihatnya Taeyeon berdiri
mematung menatap dirinya berdiri tepat di hadapan Taeyeon. Taeyeon menangis
namun tak bersuara. Seungcheol segera menutup pintu dan menghampiri istrinya.
Ia mngecup kening Taeyeon dan memeluknya pelan, membiarkan istrinya menangis di
dadanya.
“
Maaf, aku pulang terlambat dan membuatmu khawatir. ” ujar Seungcheol pelan di
telinga Taeyeon yang masih terisak memeluk tubuh suaminya yang sejak tadi ia
khawatirkan. Di usapnya punggung Taeyeon sambil beberapa kali ia mengecup
kepala Taeyeon, ia berusaha menenangkannya.
“
Maaf aku tidak mengangkat telponmu. I’m sorry. ” jelasnya sekali lagi. Taeyeon
menganggukkan kepalanya pelan, namun ia masih tetap menangis. Direnggangkannya
pelukan keduanya. Ia pun menatap mata istrinya yang sembab karena air mata yang
terus menerus keluar. Diusapnya air mata di pipi istrinya dengan sayang.
Seungcheol tersenyum tipis, mencoba menenangkan istrinya. “ Hey hey, i’m here.
Aku baik-baik saja. Aku sudah berdiri di hadapanmu dan memelukmu. Berhentilah
menangis, honey. ” diusapnya pipi dan mata Taeyeon pelan. Seungcheol pin
mengecup kening, mata, pipi dan bibir Taeyeon pelan.
“
Kau... kemana saja eoh? Mengapa lama sekali? Kenapa tidak mengabariku? Kenapa
tidak mengangkat telponku? Kenapa? Apakah aku mengganggumu? ” tanya Taeyeon
bertubi-tubi. Seungcheol meletakkan telunjuknya tepat di mulut istrinya. “
Ssstt akan aku jelaskan nanti, ok? Sekarang kita ke ruang makan, aku
membawakanmu donat, kesukaanmu. Dan itu tertinggal di dalam mobil. Akan ku
ambil sekarang. Tunggu di dapur, ok? Buatkan aku kopi. ” Seungcheol pun segera
keluar dan berlari menuju mobilnya, mengambil sekotak besar penuh dengan donat
warna warni.
Taeyeon
pun tersenyum. Ia segera berjalan ke dapur dan mengusap wajahnya dengan tisu.
Ia melihat makanan yang ia masak tadi masih tertata rapi di atas meja. Semuanya
pun sudah dingin. Ia mencoba menghangatkan beberapa masakan dan meletakkannya
ke dalam microwave.
Seungcheol
pun kembali dan berjalan ke arah dapur. Ia terkejut melihat meja makan penuh
dengan makanan. Di lihatnya istrinya sedang memanaskan makanan dan membuat
kopi. Ia menarik nafas dalam, menyesali apa yang terjadi karena mendahulukan
orang lain dibanding istrinya yang sedang hamil besar dan sangat membutuhkan
perhatian penuh.
Ia
meletakkan kotak donat di samping meja makan dan menghampiri istrinya,
memeluknya dari belakang. “ Kau memasaknya semua? Maaf, aku membuatmu menunggu
terlalu lama. ” ujar Seungcheol, sekali lagi di kecupnya pipi istrinya penuh
sayang. Taeyeon tersenyum dan mengangguk pelan.
“
Tidak apa-apa. Aku masih memanaskannya. Kita makan bersama, ok? Kau pasti
lapar. Dan ini... kopimu sudah jadi. Cuci tanganmu dulu lalu kita makan. ”
Taeyeon hanya tersenyum dan tetap fokus menghangatkan makanannya. Seungcheol
pun pergi untuk mencuci tangannya juga membasuh wajahnya. Ia pun kembali ke
ruang makan dan segera duduk di samping Taeyeon. Semua makanan pun siap
disantap. Betapa sempurnanya semua ini, namun sekali lagi ia membuang waktu
kebersamaan antara dirinya dan Taeyeon.
“
Selamat makan. ” ujar keduanya bersamaan. Makan malam pun tidak terasa sehening
siang tadi. Keduanya tetap berbicara dan bercanda sesekali. Taeyeon pun
menyuapi makanan pada Seungcheol, dan begitu sebaliknya.
Suasana
terasa kembali seperti awal mula mereka berumah tangga. Mencuci piring dan gelas
bersama. Namun kali ini Seungcheol tidak mengijinkan Taeyeon mencuci terlalu
lama. Ia meminta Taeyeon meminum susunya saja dan duduk santai didepan
televisi.
==================================skip===================================
Menjelang
tidur, keduanya hanya terdiam, menatap langit kamar. Hanya terdengar deru nafas
yang teratur. Di dalam selimut, Seungcheol hanya menggenggam tanggan Taeyeon
dengan lembut, ebgitupun juga sebaliknya.
“
Maafkan aku untu kejadian hari ini. Di luar dugaan, aku mengacaukan hari libur
kita berdua. Aku harap ada lain hari. ” ujar Seungcheol membuka pembicaraan. Taeyeon
hanya mengerjapkan matanya dan menimpali, “ Semoga tidak ada pengganggu. Jika ada,
aku tidak memandang dia siapa, akan ku tendang saat itu juga. Ugh.. kkk ”
keduanya pun terkekeh bersama.
“
Woah jadi istriku semakin berani sekarang hmm? ” tanya Seungcheol sembari
mengubah posisi tidurnya menghadap Taeyeon. “ Ani. Aku hanya mengatakannya
saja. Tapi, sungguh... aku ingin melakukannya sekali saja. Jika laki-laki, akan
ku tendang. Jika perempuan, akan ku jambak... atau mungkin lebih parah dari
itu. ” ujar Taeyeon serius, masih menatap langit-langit kamar. Seungcheol terkekeh
dan kemudian mengusap rambut istrinya.
“
Arraseo, aku akan melihatnya nanti. ” timpal Seungcheol sekali lagi. Kemudian ia
mendekatkan tubuhnya pada Taeyeon, merengkuh tubuh mungil istrinya perlahan. Taeyeon
pun merubah posisinya, merebahkan kepalanya di lengan Seungcheol perlahan. Perutnya
kini semakin membesar, menjelang bulan ke 8. Diusapnya terus menerus perut
buncit istrinya dengan perlahan lalu beralih ke pipi Taeyeon.
Taeyeon
mencoba memejamkan matanya. Ia menempelkan telinganya pada dada Seungcheol, mendengarkan
degup jantungnya sebagai lagu pengantar tidurnya, sangat tenang. Seungcheol pun
mencoba memejamkan matanya semari memainkan ujung rambut istrinya.
“
Ada hubungan apa kau dengan Minyoung? ” celetuk Taeyeon tiba-tiba. Seungcheol membuka
matanya, ia terkejut, seketika degup jantungnya mulai berdetak cepat. Taeyeon menyadari
itu. Segera ia menengadahkan kepalanya dan menatap suaminya.
“
Minyoung... noona? Hubungan? Kita tidak ada hubungan apapun. Berteman kan, sama
seperti aku berteman dengan teman-teman dekatmu. Tidak lebih. Kenapa... kau
tiba-tiba bertanya begitu? ” tampak Seungcheol sedikit gugup, Taeyeon membaca
perubahan yang ada pada wajahnya. Ia menatap Seungcheol datar lalu menggeleng. “
Hanya ingin tahu. Sepertinya kalian sangat dekat akhir-akhir ini. ” jelas
Taeyeon yang kemudian kembali ke posisinya semula.
Deg.
Seungcheol pun menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “
Sangat dekat? Aniya... aku sedang ada bisnis kecil dengannya. Jadi wajar saja
jika kau merasa begitu. ” Seungcheol pun mulai mengeluarkan keringat dingin di
pelipisnya.
“
Hmm.. benarkah? Baiklah kalau begitu. Selamat malam. ” ujar Taeyeon datar. Ia mengubah
posisinya lagi, kini menjauh dari Seungcheol, membuat jarak. ‘Hampir...saja ketahuan... ffyuh.’ ujar Seungcheol
dalam hati. Ia pun melihat Taeyeon tidur agak menjauh dari dirinya, perasaannya
pun tidak nyaman.
“
Taeyeon-ah... kau marah? Hey... ” di tepuknya legan Taeyeon pelan, tidak ada
reaksi. Di intipnya istrinya yang tidur membelakangi dirinya. “ Sudah tidur...
baiklah, selamat tidur. ” ucap Seungcheol pelan di telinga Taeyeon lalu ia
mengecup kepala istrinya itu dan kemudian tidur.
===============================skip======================================
5
hari kemudian...
“ Ini adalah bulan ke 8. Aku ingin
memeriksa kandunganku dan jenis kelamin bayi kita. Kau bisa antarkan aku ke rumah
sakit? ” tanya Taeyeon sambil memegang
handphonenya dan juga kuas.
“ Hari ini? Jam berapa? Sekarang juga?
Aku akan ijin bos untuk pergi mengantarmu. ” tanya
Seungcheol di seberang telpon.
“ Eumm kau sibuk? Jika tidak
terlalu sibuk, bisakah sekarang? Maksudku jam 9 nanti, masih ada waktu 30
menit. Aku sudah menelpon Dr. Seomin tadi. ” ujar
Taeyeon sambil membereskan beberapa pakaian.
“ Baiklah aku akan ijin sekarang
dan segera pulang. Kau siap-siap saja, ok? Ku tutup dulu telponnya. ” terdengar
Seungcheol mulai membereskan barang-barangnya. Taeyeon tersenyum. “ Arraseo appa, hati-hati dijalan. Aku akan
ganti baju sekarang. ” kemudian telpon pun terputus.
Taeyeon
pun segera mengganti pakaiannya dan merapikan rambutnya. Di usapnya perutnya
perlahan.
“ Aku ingin tahu... kau bayi perempuan atau laki-laki kkk.. ” Taeyeon
pun terkekeh sambil terus mengusap perutnya. Di rasakannya bayi tersebut menendang
pelan. “ Ah, kau laki-laki hmm? Sepertinya kau akan suka belajar taekwondo
dengan appamu nanti. ” ujar Taeyeon sekali lagi.
Ia
menatap wajahnya di cermin. Ia tampak terlihat cukup sehat dan segar pagi ini. Ia
pun merias tipis wajahnya agar tidak terlihat seperti orang yang sakit. Pipinya
pun semakin chubby semenjak kandungannya menginjak 8 bulan, tepatnya hari ini.
Tak
terasa waktu berlalu, Seungcheol pun tiba di rumah. Kemudian keduanya bergegas
berangkat ke Rumah sakit karena tidak sabar ingin mengetahui jenis kelamin bayi
mereka. Sesampainya di sana, Dr. Seomin sudah menunggu di ruangannya. Keduanya pun
segera memasuki ruangan dan memulai pemeriksaan.
Setelah
memeriksa kesehatan Taeyeon, kini mulai memeriksa dan melihat kandungan
Taeyeon. Keduanya pun gugup, Seungcheol menggenggam tangan Taeyeon dan
tersenyum menatap istrinya.
“
Bayimu sehat, syukurlah. Rupanya dia aktif bergerak di dalam perutmu. Terlihat...seperti
dia memahami situasi perasaanmu saat ini. Kau bahagia, dia juga bahagia. Tapi,
jika kau sedih dan setres berat, itu akan mempengaruhi bayimu. Hindari hal-hal
yang dapat membuatmu setres. Apakah ada beberapa hal yang mengganggu pikiranmu?
” tanya Dr. Seomin pada Taeyeon.
“
Hmm hanya sedikit, namun itu tidak terlalu jadi masalah bagi saya. ” jelas
Taeyeon. Ia tahu, saat ini ia mencoba tidak mengingat lagi masalah yang selama
hampir 2 bulan ini ia pikirkan. Ia ingin bayinya sehat dan terhindar dari
setres berat.
“
Hmm baiklah baiklah kalau begitu. Tetap makan makanan yang sehat, perbanyak
sayur dan juga buah. Susu dan air mineral terutama. Dan ini... ” dokter pun
memutar alat pendeteksinya di sekitar pinggir perut Taeyeon dan mulai
mendeteksi jenis kelamin bayinya.
“
Ini masih belum terlalu pasti, tapi jika dilihat di bagian sebelah sini,
diperkirakan bayi anda laki-laki. ” ujar Dr. Seomin. Keduanya pun tersenyum
lega dan Seungcheol pun mencium tangan Taeyeon. Seketika handphone Seungcheol
pun berbunyi lagi. Ia menghembuskan nafas berat.
“
Wait here, akan ku angkat telpon dulu. ” ujar Seungcheol pada Taeyeon. Taeyeon pun
mengiyakan. Seungcheol pun berjalan cepat keluar ruangan dan mengangkat telpon.
“
Ya? Aku sedang menemani Taeyeon di Rumah sakit. Bisakah nanti saja kita
membicarakannya? ..... Iya aku tahu, tapi Taeyeon lebih penting saat ini. Bisakah
kita bahas lain kali? Ah.. ” segera Seungcheol memutuskan sambungan telpon. Diaturnya
nafas perlahan, mencoba tenang. Ia memijit pelipisnya pelan. Kemudian ia
kembali lagi ke dalam ruangan. Tampak Taeyeon sudah selesai melakukan
pemeriksaan.
“
Bagaimana? Perkiraan akan lahir kapan? ” tanya Seungcheol tiba-tiba. Taeyeon dan
dokter hanya tersenyum. “ Sayang, sabar dulu. Hanya Tuhan yang tahu kapan dia
akan lahir. ” ujar Taeyeon pelan. Seungcheol pun membantu Taeyeon turun dari
ranjang dan merapikan pakaiannya.
Setelah
berbincang-bincang dengan dokter, mereka pun pamit dan segera pulang. Di perjalanan
keduanya tidak bisa berhenti tersenyum. “ Laki-laki? Kau ingin memberinya nama
apa? ” tanya Taeyeon sambil terus mengusap perutnya.
“
Nama? Belum terpikirkan.. nanti kita pikirkan bersama dirumah. Ok? ” ujar
Seungcheol sambil tetap fokus ke arah jalan. Akhirnya keduanya pun tiba
dirumah. Seungcheol membantu Taeyeon keluar dari mobil dan berjalan masuk ke
dalam.
Sesampainya
di kamar, tiba-tiba Taeyeon ingin mengidam. “ Appa...aku ingin rumput laut
kering crispy. Bisakah kau membelikannya untukku di supermarket di dekat sini? ”
pinta Taeyeon memelas. Seungcheol hanya terkekeh pelan dan mengangguk.
“
Baiklah aku akan beli sekarang. Ada lagi,
my Queen? ” tanya Seungcheol. “ Eum yougurt, rasa apa saja. Ok? Terima kasih
appa~. Pakai sepeda lebih cepat. ” ujar Taeyeon sekali lagi. “ Yess maam~ ”
kemudian Seungcheol melepas jas kantornya juga dasinya. Ia mengambil topi dan
juga dompet di dalam tasnya. Ia pun segera pergi.
Tanpa
ia sadar, ia meninggalkan handphonenya di dalam jas kantornya. Taeyeon pun
mulai merapikan kasur dan segera akan merebahkan tubuhnya. Namun terhenti. Handphone
Seungcheol berdering tanda ada pesan masuk.
Taeyeon
pun mencari asal suara, kemudian ia melihat jas kantor suaminya yang tergeletak
begitu saja di sofa. Ia merogoh kantong dalam jas kantor milik suaminya, dan
membuka pesan. Pesan dari –Minyoung-.
To
be continued....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar