Minggu, 06 Maret 2016

Chapter 05: Please? (part 2)

Title: Please? [Part 2]
Cast: Kim Taeyeon, Choi Seungcheol, Hwang Minyoung and other
PG: 13
Genre: Romance, Sad, Marriage Life, Friendship
PS: This is the last chapter, untuk chapter sebelum ini akan di posting setelah beberapa hari chapter ini di post.
==========================================================================
Author POV

Setelah kejadian itu, Taeyeon terus mengawasi gerak gerik suaminya. Beberapa kali Taeyeon berpikir bahwa suaminya berselingkuh dengan sahabatnya, Minyoung, tapi ia tepis pemikiran itu karena ia percaya pada Seungcheol. ‘ Dia bukanlah pria yang seperti itu. ’ pikir Taeyeon suatu ketika.
Siang itu keduanya makan siang bersama diluar, karena Taeyeon ingin suasana baru dan segar. Untungnya hari ini libur dan Seungcheol bisa menemani Taeyeon kemana saja. Keduanya sudah memesan makanan masing-masing dan tinggal menunggu pesanan mereka datang.

“ Tiba-tiba saja aku ingin makan banyak hari ini. ” celetuk Taeyeon di sela-sela keheningan diantara keduanya. Seungcheol sedikit terkejut dan terkekeh. “ Kau sedang mengidam hmm? Makanan apa saja yang ingin kau makan? Aku akan pesankan sekarang. ” ujar Seungcheol sembari tersenyum dan menggenggam tangan Taeyeon.

Taeyeon berpikir sejenak, “ Eumm bisakah kita makan di tempat lain? Tiba-tiba aku ingin mencicipi makanan di setiap restauran terdekat.. ” jelas Taeyeon yang tampak sekali kelaparan. Diliriknya perutnya yang semakin besar, lalu ia tersenyum. “ Untuk cadangan bayi kita. Jadi aku makan banyak hihi. ” Seungcheol yang mendengarnya hanya tertawa pelan dan tetap menggenggam tangan istrinya.

Tiba-tiba terdengar nada dering dari handphone milik Seungcheol. Seketika keduanya berhenti terkekeh. Seungcheol segera mengambil handphonenya dari saku celananya. Taeyeon mengamati ekspresi wajah suaminya dengan wajah datar. “ Telpon dari siapa? Angkat saja jika itu penting. ” ujar Taeyeon pelan dan kemudian ia memandang ke arah lain saat Seungcheol menatap Taeyeon seperti hendak meminta izin untuk mengangkat telponnya. Tanpa Taeyeon menjawab, Seungcheol segera berdiri dan berjalan keluar, mengangkat telpon dari seseorang.


Cemas. Satu kata yang sangat menggambarkan ekspresi Taeyeon saat ini. Perasaannya mulai tidak enak. Di usapnya perutnya perlahan, mencoba tenang hanya dengan merasakan pergerakan bayi yang ada di dalam perutnya. Taeyeon berdoa di dalam hatinya, semoga perasaan dan dugaannya salah.

Tak berapa lama Seungcheol kembali ke tempat duduknya, bersamaan dengan itu pula makanan pun datang. Taeyeon mencoba merubah ekspresi wajahnya dan mulai menikmati makanannya. “ Sepertinya aku tidak bisa menemanimu... untuk pergi ke restauran lain dan makan makanan disana. Tiba-tiba ada telpon dari kantor... dan yah.. ya aku harus ke kantor segera setelah kita selesai makan dan mengantarmu pulang. Bagaimana? Is that okay? ” ujar Seungcheol di sela-sela keduanya menikmati makanan. Taeyeon berhenti mengunyah makanannya dan menelan bulat-bulat makanan yang dimakannya lalu ia segera meminum minumannya.

“ Tidak apa-apa. Kita bisa menggantinya lain hari. Tapi, saat kau pulang nanti, bawakan aku beberapa makanan, ok? ” Taeyeon tersenyum tipis, berusaha menutupi rasa kecewanya. Namun, Seungcheol tahu jika istrinya saat ini kecewa. Ia menggenggam tangan Taeyeon dan mengangguk. “ Aku akan bawakan makanan yang banyak. Jangan khawatir. ” ujar Seungcheol pada istrinya, dan Taeyeon hanya mengiyakan.

Kemudian keduanya melanjutkan makan siang dengan hening. Telpon Seungcheol berdering sekali lagi. Taeyeon mengamati ekspresi suaminya saat ia mengecek telponnya. Tanpa meminta izin, Seungcheol pun segera bangkit dan berlari keluar restauran untuk mengangkat telponnya.

Ia menarik nafas dalam dan mulai berbicara, “ Ya? Aku sudah katakan tadi, aku masih menikmati makan siangku dengan istriku. What? Ah.... arraseo. Baiklah, aku segera kesana setelah mengantar Taeyeon pulang. <klik> ” segera ia putuskan sambungan telpon. Ia menendang sebuah kaleng cola kosong terdekat dan bergegas masuk kembali ke dalam restauran. Ia mengubah raut wajahnya, mencoba tenang dan kembali duduk di hadapan istrinya yang saat ini sudah menyelesaikan santap siangnya.

“ Kau sudah selesai? Woah cepat sekali. Aigoo our baby looks so hungry. ” ujar Seungcheol  sambil terkekeh menatap Taeyeon yang hanya tersenyum dan mengusap perutnya pelan. Seungcheol pun memanggil pelayan dan segera membayar. “ Ayo kita pulang. Bosku benar-benar merindukanku, sepertinya haha. ” celetuk Seungcheol sekali lagi. Taeyeon pun hanya mengangguk pelan dan segera berdiri perlahan. Seungcheol merengkuh pinggang dan lengan Taeyeon dan membantunya bangun. Keduanya pun berjalan keluar restauran dan segera memasuki mobil. Mobil pun melesat cukup cepat namun tetap tenang.

Tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Keheningan tercipta. Sangat berbeda dengan biasanya. Taeyeon hanya memperhatikan jalan raya di seberang jendela mobilnya, sedangkan Seungcheol hanya fokus menyetir namun pikirannya ada dimana-mana. Sesampainya di rumah, Taeyeon melarang Seungcheol untuk turun mengantarnya.

“ Kau langsung berangkat saja. Bos mu pasti menunggumu. Aku tidak apa-apa, aku bisa berjalan sendiri. ” jelas Taeyeon dengan seulas senyuman. Tanpa menunggu jawaban Seungcheol, Taeyeon segera melepas seatbelt dan membuka pintu, bergegas masuk ke dalam rumah melalui pintu di samping gerbang besar, tidak menoleh sama sekali. Seungcheol pun semakin yakin jika istrinya kecewa saat ini. Lalu ia pun mulai menginjak gas dan bergegas pergi menuju lokasi.

=================================skip====================================
Seungcheol memasuki sebuah rumah setelah beberapa kali ia menekan bel dan tidak ada satupun yang merespon. Ia pun membuka pintu setelah menekan beberapa angka. Ia berjalan masuk dengan perlahan. Melihat suasana isi rumah yang cukup berantakan, ia yakin betul jika sesuatu baru saja terjadi  disini. Ia berjalan ke arah ruang keluarga yang cukup gelap dan melihat sesosok perempuan duduk terisak di sudut ruangan.

“ Noona? ” Ia berjalan mendekati perempuan itu dan segera duduk di sampingnya. Perempuan itu masih terisak dan memeluk lengan kakinya. Terlihat penampilannya sangat kusut dan rambutnya cukup berantakan. Perempuan itu menolehkan wajahnya, menatap Seungcheol sekejap dan segera memeluk Seungcheol. Ia kembali terisak, cukup kencang, dan tangisannya terdengar perih. Seungcheol merasa iba padanya. Ia menepuk–nepuk pelan pundaknya berusaha menenangkan meskipun ia tidak tahu harus mengatakan apa.

“ Please, uljimma noona. Katakan padaku apa yang terjadi? ” tanya Seungcheol perlahan. Perempuan yang dipanggilnya noona itu pun berhenti menangis dan melepaskan pelukannya. Di tatapnya Seungcheol sekilas, kemudian ia pun mulai bercerita, sesekali ia mencoba menahan tangisannya.

“ Sepertinya... oppa tahu tentang ini. Dia mengamuk tadi saat pulang dari kantor, dan dia sempat menamparku sekali hiks sakit, dia tidak pernah sekeras itu padaku. ” kemudian ia menangis lagi sambil memegang pipinya yang terlihat agak memar dan memerah. Seungcheol mengerutkan keningnya dan menarik nafas dalam juga memijat pelipisnya pelan.

“ Sepertinya hyung sudah mengamati sejak beberapa hari yang lalu. Kurasa Taeyeon juga... aku tidak tahu lagi. ” ditariknya nafas dalam-dalam. “ Mianhae, ini semua gara-gara aku yang memaksamu melakukannya. Aku tahu tidak seharusnya begitu, aku jahat. Maafkan aku. Aku menyakiti dua orang sekaligus. ” perempuan itu pun menangis lagi. Seungcheol hanya menghela nafas berat.

Keduanya terus mengobrol. Seungcheol mencoba menenangkannya. Hingga akhirnya perempuan itu tertidur di pahanya. Kemudian Seungcheol mengangkatnya, membawanya ke kamarnya, dan merebahkannya di kasur. Ia pun pamit untuk pulang, namun tangannya di tahan oleh perempuan itu, dan memintanya untuk tinggal sebentar. Sekali lagi ia menarik nafas pelan dan segera duduk di lantai dekat kasur, menemani perempuan itu hingga akhirnya ia tertidur lagi.

==================================skip===================================
Jam sudah menunjukkan pukul 20:30 KST. Taeyeon tidak berhenti untuk terus mondar mandir di depan pintu, menunggu kedatangan suaminya. Keningnya terus menerus mengkerut karena tiap kali ia menelpon suaminya, ia tidak mengangkatnya. Taeyeon semakin khawatir, takut jika sesuatu terjadi padanya.

Makan malam yang ia buat pun sudah mulai dingin karena sejak tadi Taeyeon membiarkannya, sengaja ingin makan malam bersama dengan suaminya. Namun orang yang ditunggu pun tak kunjung datang. Ia pun tak berselera makan lagi.

Di usapnya perut buncitnya berkali-kali, mencoba menenangkan diri dan bayinya yang berkali-kali bergerak dan menendang-nendang perutnya pelan. Bayinya tahu jika ibunya saat ini sangat khawatir. Taeyeon pun mencoba menelpon Wonwoo, “ Siapa tahu Seungcheol saat ini sedang mampir ketempatnya. Ya, coba saja. ” ia pun menelpon Wonwoo.

T: “ Eoh yeoboseyo.. Wonwoo-yya. ”
W: “ Yeoboseyo. Eoh, noona-yya. Tumben kau menelponku malam-malam begini. Ada apa? ”
T: “ Ah begini, apakah Seungcheol bersamamu? Karena ia belum juga pulang sejak sore tadi. ” Taeyeon berusaha menstabilkan suaranya.
W: “ Tidak noona. Dia tidak kesini sama sekali. Sejak sore? Bukankah biasanya ia pamit padamu? Uhuk uhuk.. ”
T: “ Ah, sebenarnya aku tahu dia sedang ada urusan dengan Bos nya. Tapi ia tidak bilang jika akan selama ini. Aku hanya khawatir. Ia tidak mengangkat telponku sejak tadi. Aku khawatir. ”
W: “ Wah benarkah? Jika iya dengan Bosnya, mungkin ia akan segera mengangkat telponmu noona. Mungkin ia sedang ada rapat dadakan dengan Bosnya. Semoga dia baik-baik saja. ” 
T: “ Hmm baiklah kalau begitu. Ahh, kau sedang sakit? Jangan lupa makan dan minumlah obatmu. Stay warm Wonwoo-yya. Kalau begitu aku akan mencoba menelponnya lagi. ” jelas Taeyeon, ia masih ekstra khawatir.
W: “ Ah hanya batuk biasa noona haha. Terima kasih karena masih sempat mengkhawatirkanku, noona. Semangat! Tetap berpikir positif. Annyeong noona. ” 

Taeyeon pun hanya menganggukkan kepalanya dan segera mengucapkan terima kasih pada Wonwoo. Telpon pun terputus.

Taeyeon segera menelpon suaminya lagi. Tidak di angkat. Taeyeon pun mengambil kursi di meja makannya dan meletakkannya tepat di dekat pintu masuk. Ia sangat cemas, dan tidak terasa jam pun menunjukkan pukul 21:00 KST. Di tariknya nafas dalam-dalam, rasanya ia pun ingin menangis karena khawatir.

Kemudian ia mendengar suara mobil yang familiar berhenti tepat di depan rumahnya. Taeyeon pun bangkit dari tempat duduknya dan ingin segera membuka pintu, tapi ia tahan, takut jika itu bukan suaminya. Benar saja, itu adalah suaminya.

Seungcheol pun segera menekan tombol password dan membuka pintu. Dilihatnya Taeyeon berdiri mematung menatap dirinya berdiri tepat di hadapan Taeyeon. Taeyeon menangis namun tak bersuara. Seungcheol segera menutup pintu dan menghampiri istrinya. Ia mngecup kening Taeyeon dan memeluknya pelan, membiarkan istrinya menangis di dadanya.

“ Maaf, aku pulang terlambat dan membuatmu khawatir. ” ujar Seungcheol pelan di telinga Taeyeon yang masih terisak memeluk tubuh suaminya yang sejak tadi ia khawatirkan. Di usapnya punggung Taeyeon sambil beberapa kali ia mengecup kepala Taeyeon, ia berusaha menenangkannya.

“ Maaf aku tidak mengangkat telponmu. I’m sorry. ” jelasnya sekali lagi. Taeyeon menganggukkan kepalanya pelan, namun ia masih tetap menangis. Direnggangkannya pelukan keduanya. Ia pun menatap mata istrinya yang sembab karena air mata yang terus menerus keluar. Diusapnya air mata di pipi istrinya dengan sayang. Seungcheol tersenyum tipis, mencoba menenangkan istrinya. “ Hey hey, i’m here. Aku baik-baik saja. Aku sudah berdiri di hadapanmu dan memelukmu. Berhentilah menangis, honey. ” diusapnya pipi dan mata Taeyeon pelan. Seungcheol pin mengecup kening, mata, pipi dan bibir Taeyeon pelan.

“ Kau... kemana saja eoh? Mengapa lama sekali? Kenapa tidak mengabariku? Kenapa tidak mengangkat telponku? Kenapa? Apakah aku mengganggumu? ” tanya Taeyeon bertubi-tubi. Seungcheol meletakkan telunjuknya tepat di mulut istrinya. “ Ssstt akan aku jelaskan nanti, ok? Sekarang kita ke ruang makan, aku membawakanmu donat, kesukaanmu. Dan itu tertinggal di dalam mobil. Akan ku ambil sekarang. Tunggu di dapur, ok? Buatkan aku kopi. ” Seungcheol pun segera keluar dan berlari menuju mobilnya, mengambil sekotak besar penuh dengan donat warna warni.
Taeyeon pun tersenyum. Ia segera berjalan ke dapur dan mengusap wajahnya dengan tisu. Ia melihat makanan yang ia masak tadi masih tertata rapi di atas meja. Semuanya pun sudah dingin. Ia mencoba menghangatkan beberapa masakan dan meletakkannya ke dalam microwave.

Seungcheol pun kembali dan berjalan ke arah dapur. Ia terkejut melihat meja makan penuh dengan makanan. Di lihatnya istrinya sedang memanaskan makanan dan membuat kopi. Ia menarik nafas dalam, menyesali apa yang terjadi karena mendahulukan orang lain dibanding istrinya yang sedang hamil besar dan sangat membutuhkan perhatian penuh.

Ia meletakkan kotak donat di samping meja makan dan menghampiri istrinya, memeluknya dari belakang. “ Kau memasaknya semua? Maaf, aku membuatmu menunggu terlalu lama. ” ujar Seungcheol, sekali lagi di kecupnya pipi istrinya penuh sayang. Taeyeon tersenyum dan mengangguk pelan.

“ Tidak apa-apa. Aku masih memanaskannya. Kita makan bersama, ok? Kau pasti lapar. Dan ini... kopimu sudah jadi. Cuci tanganmu dulu lalu kita makan. ” Taeyeon hanya tersenyum dan tetap fokus menghangatkan makanannya. Seungcheol pun pergi untuk mencuci tangannya juga membasuh wajahnya. Ia pun kembali ke ruang makan dan segera duduk di samping Taeyeon. Semua makanan pun siap disantap. Betapa sempurnanya semua ini, namun sekali lagi ia membuang waktu kebersamaan antara dirinya dan Taeyeon.

“ Selamat makan. ” ujar keduanya bersamaan. Makan malam pun tidak terasa sehening siang tadi. Keduanya tetap berbicara dan bercanda sesekali. Taeyeon pun menyuapi makanan pada Seungcheol, dan begitu sebaliknya.

Suasana terasa kembali seperti awal mula mereka berumah tangga. Mencuci piring dan gelas bersama. Namun kali ini Seungcheol tidak mengijinkan Taeyeon mencuci terlalu lama. Ia meminta Taeyeon meminum susunya saja dan duduk santai didepan televisi.

==================================skip===================================
Menjelang tidur, keduanya hanya terdiam, menatap langit kamar. Hanya terdengar deru nafas yang teratur. Di dalam selimut, Seungcheol hanya menggenggam tanggan Taeyeon dengan lembut, ebgitupun juga sebaliknya.

“ Maafkan aku untu kejadian hari ini. Di luar dugaan, aku mengacaukan hari libur kita berdua. Aku harap ada lain hari. ” ujar Seungcheol membuka pembicaraan. Taeyeon hanya mengerjapkan matanya dan menimpali, “ Semoga tidak ada pengganggu. Jika ada, aku tidak memandang dia siapa, akan ku tendang saat itu juga. Ugh.. kkk ” keduanya pun terkekeh bersama.

“ Woah jadi istriku semakin berani sekarang hmm? ” tanya Seungcheol sembari mengubah posisi tidurnya menghadap Taeyeon. “ Ani. Aku hanya mengatakannya saja. Tapi, sungguh... aku ingin melakukannya sekali saja. Jika laki-laki, akan ku tendang. Jika perempuan, akan ku jambak... atau mungkin lebih parah dari itu. ” ujar Taeyeon serius, masih menatap langit-langit kamar. Seungcheol terkekeh dan kemudian mengusap rambut istrinya.

“ Arraseo, aku akan melihatnya nanti. ” timpal Seungcheol sekali lagi. Kemudian ia mendekatkan tubuhnya pada Taeyeon, merengkuh tubuh mungil istrinya perlahan. Taeyeon pun merubah posisinya, merebahkan kepalanya di lengan Seungcheol perlahan. Perutnya kini semakin membesar, menjelang bulan ke 8. Diusapnya terus menerus perut buncit istrinya dengan perlahan lalu beralih ke pipi Taeyeon.

Taeyeon mencoba memejamkan matanya. Ia menempelkan telinganya pada dada Seungcheol, mendengarkan degup jantungnya sebagai lagu pengantar tidurnya, sangat tenang. Seungcheol pun mencoba memejamkan matanya semari memainkan ujung rambut istrinya.

“ Ada hubungan apa kau dengan Minyoung? ” celetuk Taeyeon tiba-tiba. Seungcheol membuka matanya, ia terkejut, seketika degup jantungnya mulai berdetak cepat. Taeyeon menyadari itu. Segera ia menengadahkan kepalanya dan menatap suaminya.

“ Minyoung... noona? Hubungan? Kita tidak ada hubungan apapun. Berteman kan, sama seperti aku berteman dengan teman-teman dekatmu. Tidak lebih. Kenapa... kau tiba-tiba bertanya begitu? ” tampak Seungcheol sedikit gugup, Taeyeon membaca perubahan yang ada pada wajahnya. Ia menatap Seungcheol datar lalu menggeleng. “ Hanya ingin tahu. Sepertinya kalian sangat dekat akhir-akhir ini. ” jelas Taeyeon yang kemudian kembali ke posisinya semula.

Deg. Seungcheol pun menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “ Sangat dekat? Aniya... aku sedang ada bisnis kecil dengannya. Jadi wajar saja jika kau merasa begitu. ” Seungcheol pun mulai mengeluarkan keringat dingin di pelipisnya.

“ Hmm.. benarkah? Baiklah kalau begitu. Selamat malam. ” ujar Taeyeon datar. Ia mengubah posisinya lagi, kini menjauh dari Seungcheol, membuat jarak. ‘Hampir...saja ketahuan... ffyuh.’ ujar Seungcheol dalam hati. Ia pun melihat Taeyeon tidur agak menjauh dari dirinya, perasaannya pun tidak nyaman.

“ Taeyeon-ah... kau marah? Hey... ” di tepuknya legan Taeyeon pelan, tidak ada reaksi. Di intipnya istrinya yang tidur membelakangi dirinya. “ Sudah tidur... baiklah, selamat tidur. ” ucap Seungcheol pelan di telinga Taeyeon lalu ia mengecup kepala istrinya itu dan kemudian tidur.

===============================skip======================================
5 hari kemudian...
“ Ini adalah bulan ke 8. Aku ingin memeriksa kandunganku dan jenis kelamin bayi kita. Kau bisa antarkan aku ke rumah sakit? ” tanya Taeyeon sambil memegang handphonenya dan juga kuas.
“ Hari ini? Jam berapa? Sekarang juga? Aku akan ijin bos untuk pergi mengantarmu. ” tanya Seungcheol di seberang telpon.
“ Eumm kau sibuk? Jika tidak terlalu sibuk, bisakah sekarang? Maksudku jam 9 nanti, masih ada waktu 30 menit. Aku sudah menelpon Dr. Seomin tadi. ” ujar Taeyeon sambil membereskan beberapa pakaian.
“ Baiklah aku akan ijin sekarang dan segera pulang. Kau siap-siap saja, ok? Ku tutup dulu telponnya. ” terdengar Seungcheol mulai membereskan barang-barangnya. Taeyeon tersenyum. “ Arraseo appa, hati-hati dijalan. Aku akan ganti baju sekarang. ” kemudian telpon pun terputus.
Taeyeon pun segera mengganti pakaiannya dan merapikan rambutnya. Di usapnya perutnya perlahan. 

“ Aku ingin tahu... kau bayi perempuan atau laki-laki kkk.. ” Taeyeon pun terkekeh sambil terus mengusap perutnya. Di rasakannya bayi tersebut menendang pelan. “ Ah, kau laki-laki hmm? Sepertinya kau akan suka belajar taekwondo dengan appamu nanti. ” ujar Taeyeon sekali lagi.
Ia menatap wajahnya di cermin. Ia tampak terlihat cukup sehat dan segar pagi ini. Ia pun merias tipis wajahnya agar tidak terlihat seperti orang yang sakit. Pipinya pun semakin chubby semenjak kandungannya menginjak 8 bulan, tepatnya hari ini.

Tak terasa waktu berlalu, Seungcheol pun tiba di rumah. Kemudian keduanya bergegas berangkat ke Rumah sakit karena tidak sabar ingin mengetahui jenis kelamin bayi mereka. Sesampainya di sana, Dr. Seomin sudah menunggu di ruangannya. Keduanya pun segera memasuki ruangan dan memulai pemeriksaan.

Setelah memeriksa kesehatan Taeyeon, kini mulai memeriksa dan melihat kandungan Taeyeon. Keduanya pun gugup, Seungcheol menggenggam tangan Taeyeon dan tersenyum menatap istrinya.

“ Bayimu sehat, syukurlah. Rupanya dia aktif bergerak di dalam perutmu. Terlihat...seperti dia memahami situasi perasaanmu saat ini. Kau bahagia, dia juga bahagia. Tapi, jika kau sedih dan setres berat, itu akan mempengaruhi bayimu. Hindari hal-hal yang dapat membuatmu setres. Apakah ada beberapa hal yang mengganggu pikiranmu? ” tanya Dr. Seomin pada Taeyeon.

“ Hmm hanya sedikit, namun itu tidak terlalu jadi masalah bagi saya. ” jelas Taeyeon. Ia tahu, saat ini ia mencoba tidak mengingat lagi masalah yang selama hampir 2 bulan ini ia pikirkan. Ia ingin bayinya sehat dan terhindar dari setres berat.

“ Hmm baiklah baiklah kalau begitu. Tetap makan makanan yang sehat, perbanyak sayur dan juga buah. Susu dan air mineral terutama. Dan ini... ” dokter pun memutar alat pendeteksinya di sekitar pinggir perut Taeyeon dan mulai mendeteksi jenis kelamin bayinya.

“ Ini masih belum terlalu pasti, tapi jika dilihat di bagian sebelah sini, diperkirakan bayi anda laki-laki. ” ujar Dr. Seomin. Keduanya pun tersenyum lega dan Seungcheol pun mencium tangan Taeyeon. Seketika handphone Seungcheol pun berbunyi lagi. Ia menghembuskan nafas berat.

“ Wait here, akan ku angkat telpon dulu. ” ujar Seungcheol pada Taeyeon. Taeyeon pun mengiyakan. Seungcheol pun berjalan cepat keluar ruangan dan mengangkat telpon.

“ Ya? Aku sedang menemani Taeyeon di Rumah sakit. Bisakah nanti saja kita membicarakannya? ..... Iya aku tahu, tapi Taeyeon lebih penting saat ini. Bisakah kita bahas lain kali? Ah.. ” segera Seungcheol memutuskan sambungan telpon. Diaturnya nafas perlahan, mencoba tenang. Ia memijit pelipisnya pelan. Kemudian ia kembali lagi ke dalam ruangan. Tampak Taeyeon sudah selesai melakukan pemeriksaan.

“ Bagaimana? Perkiraan akan lahir kapan? ” tanya Seungcheol tiba-tiba. Taeyeon dan dokter hanya tersenyum. “ Sayang, sabar dulu. Hanya Tuhan yang tahu kapan dia akan lahir. ” ujar Taeyeon pelan. Seungcheol pun membantu Taeyeon turun dari ranjang dan merapikan pakaiannya.

Setelah berbincang-bincang dengan dokter, mereka pun pamit dan segera pulang. Di perjalanan keduanya tidak bisa berhenti tersenyum. “ Laki-laki? Kau ingin memberinya nama apa? ” tanya Taeyeon sambil terus mengusap perutnya.

“ Nama? Belum terpikirkan.. nanti kita pikirkan bersama dirumah. Ok? ” ujar Seungcheol sambil tetap fokus ke arah jalan. Akhirnya keduanya pun tiba dirumah. Seungcheol membantu Taeyeon keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam.

Sesampainya di kamar, tiba-tiba Taeyeon ingin mengidam. “ Appa...aku ingin rumput laut kering crispy. Bisakah kau membelikannya untukku di supermarket di dekat sini? ” pinta Taeyeon memelas. Seungcheol hanya terkekeh pelan dan mengangguk.

“ Baiklah aku akan  beli sekarang. Ada lagi, my Queen? ” tanya Seungcheol. “ Eum yougurt, rasa apa saja. Ok? Terima kasih appa~. Pakai sepeda lebih cepat. ” ujar Taeyeon sekali lagi. “ Yess maam~ ” kemudian Seungcheol melepas jas kantornya juga dasinya. Ia mengambil topi dan juga dompet di dalam tasnya. Ia pun segera pergi.

Tanpa ia sadar, ia meninggalkan handphonenya di dalam jas kantornya. Taeyeon pun mulai merapikan kasur dan segera akan merebahkan tubuhnya. Namun terhenti. Handphone Seungcheol berdering tanda ada pesan masuk.

Taeyeon pun mencari asal suara, kemudian ia melihat jas kantor suaminya yang tergeletak begitu saja di sofa. Ia merogoh kantong dalam jas kantor milik suaminya, dan membuka pesan. Pesan dari –Minyoung-.


To be continued....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar