Sabtu, 27 Februari 2016

Chapter 05: Please? (part 1)

Cast: Kim Taeyeon, Choi Seungcheol, other
PG: 13
Genre: Romance, Marriage Life, Friendship

PS: Hope this is the last chapter, untuk chapter sebelum ini akan di posting setelah beberapa hari setelah chapter ini selesai.


========================================================================
Taeyeon POV

Aku mulai merasakan keganjalan. Ada yang berbeda dari suamiku akhir-akhir ini. Ya, Seungcheol mulai terlihat sibuk dengan handphonenya, kemana pun ia pergi, ia membawanya. Tidak biasanya. Aku selalu memperhatikannya, tanpa perlu memprotes. Rasanya ingin ku tegur, kecuali saat makan ia hanya meletakkan handphonenya di sampingnya. Jika ada pesan masuk, ia hanya meliriknya lalu kembali melanjutkan makan.

Begitu pun siang ini. Ia baru saja pulang kerja dengan cepat. Tidak biasanya.

“ Appa, tumben pulang cepat? Ada apa? ” ku perhatikan gerak geriknya juga ekspresi wajahnya, terlihat lesu dan kelelahan. “ Aku tidak apa-apa, aku hanya izin pulang cepat karena aku merasa tidak enak badan dan ngantuk berat. ” ujarnya sambil berjalan ke arah kamar dan melepas pakaiannya, dan segera mandi. “ Kalau begitu beristirahatlah, akan kubuatkan teh. ”

Aku pun berjalan ke arah dapur dan membuat teh hangat untuknya. Ku raba perutku yang semakin membesar karena kehamilanku memasuki bulan ke 6, bayiku bergerak pelan, aku tersenyum. Aku pun berjalan ke arah kamar membawa teh hangat dan meletakkannya di meja samping ranjang. Ku buka lemari dan menyiapkan pakaiannya, dan meletakkannya di ranjang. Kemudian ku lihat handphone nya yang diam hening di sofa, di samping tas kerjanya. “ Tumben tidak dibawa.. ” kemudian rasa ingin tahuku muncul, tapi kemudian ku tahan saat ku dengar pintu kamar mandi terbuka.




“ Bajunya sudah ku siapkan, seperti biasa. ” ujarku sambil tersenyum tipis, ia pun tersenyum menatapku sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk. Sedetik kemudian ia melirik ke arah sofa, pasti handphonenya. Aku masih memperhatikannya, dan ia kembali menatapku. “ Ada apa? ” tanyaku sembari mengusap perut buncitku. Dia hanya terkekeh pelan dan berjalan pelan ke arahku kemudian mengecup puncak kepalaku dan mengambil kaosnya. “ Tidak ada apa-apa. Sepertinya ada yang kau pikirkan. ” katanya sambil memakai celana tidurnya.

“ Anyway, thanks for the tea, baby. ” ujarnya sekali lagi. “ Eum? Tidak ada yang aku pikirkan, tenang saja. ” ujarku pelan mencoba meyakinkannya. “ Good girl. Jangan terlalu banyak pikiran atau memikirkan sesuatu yang tidak penting. Itu bisa membahayakan kandunganmu. ” ujarnya sekali lagi disambung dengan kecupan hangatnya pada perutku. “ Hey buddy? How’s your day in your Mom’s tummy hmm? I hope you fine there, i love you. ” sambil mengecup dan mengusap perutku berkali-kali. Aku senang dia terlihat seperti biasanya. Mungkin dia sedang ada proyek penting, jadi kemana pun ia harus membawa handphone. ‘ Be possitive, Taeyeon-ah.’ ujarku dalam hati.

Kemudian ia bangkit dan berjalan ke arah sofa dan mengambil handphonenya, lalu ia naik ke atas kasur dan merebahkan tubuhnya. Segera ku tarik selimut dan menyelimutinya. Ku kecup keningnya perlahan, “ Kau benar-benar mengantuk, hmm? Semalam lembur sampai jam berapa? Aku tidak tahu kau sampai rumah jam berapa. ” tanyaku pelan, tapi ia hanya tersenyum tipis dan segera menutup matanya tanda ia mengantuk berat. Ku gelengkan kepalaku pelan melihatnya, lalu ku berjalan keluar kamar dan menutup pintu pelan.
==================================skip===================================
Malamnya tepat pukul 18:00 KST, Seungcheol keluar kamar sambil mengusap wajahnya. Untungnya aku baru saja selesai menyiapkan makan malam. Ia segera duduk di kursi meja makan dan menguap berkali-kali. “ Masih mengantuk? Kau sudah tidur cukup lama.. ” ujarku pelan sambil menyiapkan mangkuk nasi dan sup rumput laut. Ia hanya mengangguk pelan dan tersenyum melihatku.
“ Tapi aku terbangun karena aku mencium aroma enak.... pasti ada ayam goreng. ” ujarnya pelan sambil melihat ke meja makan yang penuh dengan makanan. “ Iya, aku sedang mengahangatkannya. Tunggu dulu, sebentar lagi. Kau ingin ayam goreng hmm? ” tanyaku sambil tetap menyiapkan makanan lain. Seungcheol hanya mengangguk pelan dan tersenyum sekali lagi.

Beberapa dari makanan yang ada di meja makan adalah kiriman dari Seonkyu dan Seohyun karena mereka tahu aku sedang hamil dan memerlukan makanan sehat dan bernutrisi untuk bayiku. Dan sisanya aku membuatnya sendiri untuk suamiku, seperti ayam panggang dan sup rumput laut. Satu lagi untuk pencuci mulut, aku membuat puding coklat kesukaannya.

Kami berdua pun mulai makan, dan hening. Tidak biasanya sehening ini, mungkin karena ia masih mengantuk. “ Appa, kau tidak berselera? Apa...tidak enak rasanya? ” ku perhatikan wajahnya, dia masih mengunyah makanannya. “ Enak, tentu saja enak, seperti biasa selalu enak. Aku hanya masih sedikit mengantuk. ” aku hanya mengangguk pelan. “ Kau ingin tidur lagi setelah ini? ” tanyaku lagi. Sepertinya aku akan sendirian lagi malam ini, pikirku.

“ Entahlah, setelah aku kenyang, sepertinya aku ingin menemanimu dulu sampai aku tertidur dengan sendirinya. ” ujarnya sambil terkekeh. Aku hanya menggeleng dan kembali melanjutkan makan. Selesai makan, ia membersihkan semua peralatan makan yang kotor dan memintaku untuk duduk manis di depan tv. Aku menurutinya dan segera melaksanakan perintahnya. Ku ambil handphoneku dan segera mencari kontak Wendy. Segera ku telpon Wendy sembari menunggu Seungcheol selesai memcuci piring.

“ Kau sedang sibuk hmm? Ah.. kau sedang belajar mempersiapkan ujian akhir? Baiklah semangat semangat!! Haha terima kasih kembali. Eumm baiklah selamat belajar, maaf mengganggumu. Annyeong~ ” ujarku pada Wendy di telpon. Tepat sekali Seungcheol baru saja selesai mencuci piring dan segera duduk di sampingku, merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di pahaku.
Ku usap rambutnya perlahan, ia hanya menutup matanya dan tersenyum. Ia mendekatkan telinganya pada perutku. “ Kau sudah kenyang, baby? Atau kau ingin makan yang lain? Ah kau belum meminum susu, honey? ” tanyanya beruntun, aku hanya tersenyum dan menggeleng. “ Aku masih kenyang, nanti saja sebelum tidur. ” ucapku sambil mengusap pipinya perlahan.

Seungcheol pun mengiyakan dan kembali merebahkan kepalanya dengan nyaman di pahaku, memejamkan mata dan menikmati usapan tanganku pada rambut dan pipinya. “ Appa, kalau kau mengantuk dan ingin tidur, pindah ke kamar saja, ok? Aku tidak bisa membopongmu sampai kamar kkk ” sindirku sambil mencubit hidungnya pelan, ia pun terkekeh dan segera bangun. “ I will my queen! ” ujarnya sambil mengecu pipiku cepat dan tersenyum, menampakkan lesung pipinya, kesukaanku. “ Jangan tidur terlalu malam dan jangan lupa susunya. Good night baby, appa duluan ok? ” ujarnya sambil mengusap perutku dan mengecup perutku, kemudian berlalu berjalan ke arah kamar.

Setelah Seungcheol masuk ke dalam kamar, aku pun berjalan ke arah dapur dan mulai memakan makanan yang tersisa, puding coklat dan segera menghabiskannya. Tak lupa aku pun meminum susu dan memakan apel sambil menonton tv. Sejak hamil, tubuhku semakin berisi dan tidak kurus seperti sebelum hamil. Syukurlah, ku pikir jika aku tetap kurus dan melahirkan, akan sulit dan perlu operasi jika aku masih tetap kurus, pikirku.

Tiba-tiba telponku berdering dan ku lihat nama kontak yang menelponku, -Wonwoo-.
Sudah lama dia tidak menghubungiku, terakhir kali dia datang ke sini dan memberi hadiah pernikahan. Kemudian kami pun berbincang-bincang dan beberapa kali tertawa karena beberapa obrolan yang tidak jelas.

W: “ Aigoo noona, sebaiknya kau memastikan dulu yang ada di handphonenya, jangan langsung memutuskan yang tidak-tidak, ok? Jangan jadikan beban, kasihan bayimu nanti. ”
T: “ Arraseo, aku akan memastikannya besok, mungkin kkk. Baiklah, kau tidak istirahat? Ini sudah jam 9 malam. ”
W: “ Baguslah. Noona, ingat, aku bukan bayi yang harus tidur tepat waktu haha lagi pula aku sedang berada di luar bersama Hoshi dan Mingyu. ”
T: “ Ah benarkah? Baiklah, selamat bersenang-senang. Aku akan segera tidur karena kekenyangan membuatku mengantuk kkk annyeong~ bye bye ”
W: “ Baiklah noona, selamat malam dan selamat beristirahat. Salam untuk Seungcheol hyung jika ia bangun nanti haha. Annyeong too noona. ”

Pembicaraan kami pun selesai dan segera aku mematikan tv dan mengunci pintu, lalu segera masuk ke dalam kamar. Kamar pun sangat gelap hingga aku hanya melihat satu cahaya di balik selimut. “ Appa? Kau belum tidur? ” tanyaku, tapi tak ada jawaban. Ku nyalakan lampu meja dan terlihat suamiku tertidur nyenyak sekali. Tetapi handphonenya menyala. Segera ku naik ke atas kasur perlahan dan ku raih handphonenya. Ku lihat ada 2 missed call, dari –Minyoung-.

“ Minyoung? Hwang Minyoung? Ada apa ia menelpon suamiku malam-malam begini? ” kembali rasa ingin tahuku muncul, tapi ku tahan sejenak. “ Akan ku tanyakan besok. ” ku letakkan handphonenya di meja samping kasur dan mulai mencoba tidur meski aku tidak mengantuk sama sekali.

=================================skip====================================

Pagi harinya aku terbangun dengan cepat karena efek semalam sulit untuk tidur. Baru saja aku ingat bahwa hari ini adalah hari sabtu, dan aku ingat untuk check up dan memeriksa kesehatan kandunganku.

Ku siapkan kopi dan roti panggang selai coklat kacang untuk suamiku. Dan tepat saja ia keluar kamar dan segera mencuci muka, menyikat gigi dan memelukku dari belakang.

“ Good morning my tiny wifey hmm ” ujarnya sambil mengecup pipiku berkali-kali. Aku hanya tersenyum dan meminta duduk dan sarapan. “ Hari ini bisa temani aku check up ke dokter kandungan hmm? Tidak sibuk kan? ” tanyaku padanya saat kami berdua tengah sibuk makan makanan masing-masing.

“ Eum? Tentu saja bisa, aku libur hari ini. Kau tahu itu. Baiklah, jam berapa hmm? Appa siap mengantarmu kemana saja hari ini. ” ujarnya sembari tersenyum lebar. Sepertinya tidur kemarin membantu otaknya kembali segar. “ Nanti jam 9 kita berangkat, ok? ” dan ia pun mengangguk dan meminum kopinya.

==================================skip===================================
Sesampainya di rumah sakit, kami pun duduk menunggu panggilan. Sembari menunggu, aku masih sibuk berkutat dengan  pikiranku tentang semalam. Sedangkan Seungcheol kembali sibuk dengan handphonenya lagi. “ Apa itu Minyoung yang menelponnya? ” ujarku penasaran. Kemudian disusul suster yang memanggil namaku untuk segera masuk. Aku pun memberi kode pada Seungcheol untuk masuk, dan ia pun memintaku untuk masuk terlebih dahulu.

Setelah di dalam, dokter mulai memeriksa kandunganku, melihat perkembangan bayi dalam perutku. Semuanya positif, syukurlah. Kemudian Seungcheol pun mengetuk pintu dan masuk, berdiri di sampingku dan tersenyum ke arahku. Aku hanya menatapnya, dan kembali fokus pada dokter. Dokter memprediksi bahwa anak yang ku kandung adalah laki-laki. Aku pun senang, jika aku nanti memiliki dua bodyguard tampan disampingku. Ku tatap Seungcheol tersenyum lebar dan sempat bertepuk tangan pelan. Kemudian ia mengecup keningku dan menggenggam tanganku erat.

Perbincangan antara kami bertiga pun semakin serius. Banyak pantangan yang diberikan oleh dokter padaku, termasuk seringnya berpikir dan merasa setres berkepanjangan. Aku hanya mengangguk pelan dan mendengarkan dokter dengan baik. Tiba-tiba handphone Seungcheol berdering pelan tanda pesan masuk. Ia mengeceknya dan segera berjalan keluar tanpa mengucapkan sepatah kata padaku.
Setelah selesai, aku pun pamit pada dokter dan berjalan pelan ke arah pintu lalu membukanya. Ku dapati Seungcheol sedang duduk dan berbincang dengan seorang gadis. Seungcheol pun melihat ke arahku dan terlihat gugup, kemudian ia berdiri disertai gadis itu.

Ternyata gadis itu adalah Minyoung, sahabatku. Aku sedikit syok dan mulai menyapanya.

“ Ah annyeonghaseyo Minyoung-ah. ” sapaku padanya, dan ia hanya tersenyum memamerkan ‘eyesmilenya’ dan merangkulku dari samping. “ Aigoo annyeong mommy Taenggo-yya~ lama tidak bertemu, aku merindukanmu. Wah, perutmu semakin buncit dan ini sudah berapa bulan? ” tanyanya sambil ia mempersilahkan aku duduk di antara Seungcheol dan Minyoung.

“ Ah baru hampir menginjak bulan ke 6, mungkin besok lusa sudah bulan ke 6. Ah iya, bagaimana kau tahu aku sedang check up disini? ” tanyaku. Minyoung hanya terkekeh pelan dan menunjuk ke arah Seungcheol. Ah, sudah kuduga, pikirku. Ku lihat Seungcheol hanya tersenyum tipis. Mengapa ia tidak mengatakannya padaku tadi? Malah langsung pergi keluar, batinku.

“ Dan kebetulan aku juga sedang menjenguk keponakanku di lantai 5. Jadi sekalian saja aku kesini, iyakan Seungcheol-nim? ” ujar Minyoung sambil menatap ke arah suamiku dengan sedikit kedipan di matanya. Ku lihat suamiku hanya merespon dengan anggukan. Aku mulai sedikit curiga, tapi tidak boleh begini, pikirku sekali lagi.

“ Baiklah, maaf aku tidak membawa apapun. Aku harus segera pulang, aku ada janji kencan dengan Siwon oppa. Ok bye~ take care sayang ” ujar Minyoung cepat dan segera men-cipika cipiki pipiku dan melambai pada Seungcheol. Ku lihat kepergiannya dengan raut wajah penuh tanya. Tapi jika ku perhatikan, pakaian Minyoung cukup sexy untuk pergi ke Rumah Sakit dan menjenguk ponakannya.

“ Sudah selesai hmm? Kita pulang sekarang, atau ingin pergi ke tempat lain? ” ujar Seungcheol yang sekaligus memecahkan lamunanku. “ A-ah? Kita pulang saja.. ” ucapku singkat dan segera berdiri. Kami berdua pun pulang dengan hening. Tidak ada percakapan yang tercipta hingga sampai rumah.
Sesampainya dirumah, segera ku rebahkan tubuhku dan memejamkan mata sejenak. Seungcheol menepuk pelan pipiku, “ Aku keluar sebentar, ada yang ingin ku beli. Dan sedikit kejutan untukmu. ” jelasnya sembari ia mengecup keningku dan berlalu.

Ku pandangi langit-langit kamarku, aku merasakan perasaan tidak nyaman. Lalu ku lihat di sofa, ternyata ia tidak membawa handphonenya. Kembali rasa ingin tahu muncul. Segera aku bangun dan mengambil handphone miliknya kemudian kembali ke kasur, duduk di pinggir kasur sambil membuka lock handphonenya.

Mulai terasa perasaan tidak nyaman ini, rasa yang sungguh tidak nyaman menyelimutiku. Ku buka kontak telponnya, missed call atau telpon masuk. Sungguh mengejutkanku... Rata-rata adalah telpon masuk dari Minyoung. Ku lihat jam jam telpon masuk itu, dan terakhir kali tadi saat di rumah sakit. Ku cek sekali lagi, dan ada cukup banyak telpon dari Minyoung semalam, sepertinya saat Seungcheol kembali ke kamar dan tidur lagi. Satu hal lagi yang membuatku heran yaitu ada telpon masuk dari Minyoung pukul 14:44 KST, itu adalah jam saat Seungcheol ijin pergi tidur. Nafasku mulai berat, timbul pemikiran aneh, aku mulai jeli melihat semua telpon masuk dari Minyoung, juga missed call dari Minyoung. Degup jantungku semakin cepat. Banyak sekali telpon dari Minyoung, hingga tak satupun terlihat telpon dari orang lain, termasuk aku.

Ku remas selimut di sampingku, rasanya ingin menanyakan semuanya. Apa yang ia lakukan? Menelpon suamiku disaat ia kelelahan dan ingin istirahat. Kemudian handphone Seungcheol bergetar tanda pesan masuk. Dari –Minyoung-. “ Apa lagi ini? ”
Segera ku buka pesan dari Minyoung dan ku baca perlahan.

From: Minyoung
Hey, kau sedang sibuk? Masih menemani Taeyeon?
Siwon oppa tidak bisa menemaniku jalan karena sibuk hufh.
Bisa kau temani aku jalan? Jalan-jalan saja....

Nafasku tercekat. Aku syok sekali lagi syok. Sungguh di luar dugaan. Kenapa Minyoung meminta tolong pada pria yang sudah beristri? Sudah tahu aku sedang hamil dan butuh perhatian lebih, mengapa ia begitu? Aku kembali meremas selimutku dengan kuat.
Ku dengar mobil Seungcheol memasuki halaman rumah. Segera ku kembalikan ke halaman utama dan menguncinya. Mengembalikan ke posisi awal dan segera berbaring di kasur. Bersikap seperti tidak ada apa-apa.
Iya.. tidak ada apa-apa...


To be continued....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar