Cast: Kim Taeyeon, Choi Seungcheol, other
PG: 13
Genre: Romance, Marriage Life, Friendship
PG: 13
Genre: Romance, Marriage Life, Friendship
PS: Hope this is the last chapter, untuk chapter sebelum ini akan di posting setelah beberapa hari setelah chapter ini selesai.
========================================================================
Taeyeon POV
Aku mulai merasakan keganjalan. Ada yang berbeda
dari suamiku akhir-akhir ini. Ya, Seungcheol mulai terlihat sibuk dengan
handphonenya, kemana pun ia pergi, ia membawanya. Tidak biasanya. Aku selalu
memperhatikannya, tanpa perlu memprotes. Rasanya ingin ku tegur, kecuali saat
makan ia hanya meletakkan handphonenya di sampingnya. Jika ada pesan masuk, ia
hanya meliriknya lalu kembali melanjutkan makan.
Begitu pun siang ini. Ia baru saja pulang kerja
dengan cepat. Tidak biasanya.
“ Appa, tumben pulang cepat? Ada apa? ” ku
perhatikan gerak geriknya juga ekspresi wajahnya, terlihat lesu dan kelelahan. “
Aku tidak apa-apa, aku hanya izin pulang cepat karena aku merasa tidak enak
badan dan ngantuk berat. ” ujarnya sambil berjalan ke arah kamar dan melepas
pakaiannya, dan segera mandi. “ Kalau begitu beristirahatlah, akan kubuatkan
teh. ”
Aku pun berjalan ke arah dapur dan membuat teh
hangat untuknya. Ku raba perutku yang semakin membesar karena kehamilanku
memasuki bulan ke 6, bayiku bergerak pelan, aku tersenyum. Aku pun berjalan ke
arah kamar membawa teh hangat dan meletakkannya di meja samping ranjang. Ku buka
lemari dan menyiapkan pakaiannya, dan meletakkannya di ranjang. Kemudian ku
lihat handphone nya yang diam hening di sofa, di samping tas kerjanya. “ Tumben
tidak dibawa.. ” kemudian rasa ingin tahuku muncul, tapi kemudian ku tahan saat
ku dengar pintu kamar mandi terbuka.
“ Bajunya sudah ku siapkan, seperti biasa. ” ujarku
sambil tersenyum tipis, ia pun tersenyum menatapku sembari mengeringkan
rambutnya dengan handuk. Sedetik kemudian ia melirik ke arah sofa, pasti
handphonenya. Aku masih memperhatikannya, dan ia kembali menatapku. “ Ada apa? ”
tanyaku sembari mengusap perut buncitku. Dia hanya terkekeh pelan dan berjalan
pelan ke arahku kemudian mengecup puncak kepalaku dan mengambil kaosnya. “
Tidak ada apa-apa. Sepertinya ada yang kau pikirkan. ” katanya sambil memakai
celana tidurnya.
“ Anyway, thanks for the tea, baby. ” ujarnya sekali
lagi. “ Eum? Tidak ada yang aku pikirkan, tenang saja. ” ujarku pelan mencoba
meyakinkannya. “ Good girl. Jangan terlalu banyak pikiran atau memikirkan
sesuatu yang tidak penting. Itu bisa membahayakan kandunganmu. ” ujarnya sekali
lagi disambung dengan kecupan hangatnya pada perutku. “ Hey buddy? How’s your
day in your Mom’s tummy hmm? I hope you fine there, i love you. ” sambil
mengecup dan mengusap perutku berkali-kali. Aku senang dia terlihat seperti
biasanya. Mungkin dia sedang ada proyek penting, jadi kemana pun ia harus
membawa handphone. ‘ Be possitive,
Taeyeon-ah.’ ujarku dalam hati.
Kemudian ia bangkit dan berjalan ke arah sofa dan
mengambil handphonenya, lalu ia naik ke atas kasur dan merebahkan tubuhnya. Segera
ku tarik selimut dan menyelimutinya. Ku kecup keningnya perlahan, “ Kau
benar-benar mengantuk, hmm? Semalam lembur sampai jam berapa? Aku tidak tahu
kau sampai rumah jam berapa. ” tanyaku pelan, tapi ia hanya tersenyum tipis dan
segera menutup matanya tanda ia mengantuk berat. Ku gelengkan kepalaku pelan
melihatnya, lalu ku berjalan keluar kamar dan menutup pintu pelan.
==================================skip===================================
Malamnya tepat pukul 18:00 KST, Seungcheol keluar
kamar sambil mengusap wajahnya. Untungnya aku baru saja selesai menyiapkan
makan malam. Ia segera duduk di kursi meja makan dan menguap berkali-kali. “
Masih mengantuk? Kau sudah tidur cukup lama.. ” ujarku pelan sambil menyiapkan
mangkuk nasi dan sup rumput laut. Ia hanya mengangguk pelan dan tersenyum
melihatku.
“ Tapi aku terbangun karena aku mencium aroma
enak.... pasti ada ayam goreng. ” ujarnya pelan sambil melihat ke meja makan
yang penuh dengan makanan. “ Iya, aku sedang mengahangatkannya. Tunggu dulu,
sebentar lagi. Kau ingin ayam goreng hmm? ” tanyaku sambil tetap menyiapkan
makanan lain. Seungcheol hanya mengangguk pelan dan tersenyum sekali lagi.
Beberapa dari makanan yang ada di meja makan adalah
kiriman dari Seonkyu dan Seohyun karena mereka tahu aku sedang hamil dan
memerlukan makanan sehat dan bernutrisi untuk bayiku. Dan sisanya aku membuatnya
sendiri untuk suamiku, seperti ayam panggang dan sup rumput laut. Satu lagi
untuk pencuci mulut, aku membuat puding coklat kesukaannya.
Kami berdua pun mulai makan, dan hening. Tidak biasanya
sehening ini, mungkin karena ia masih mengantuk. “ Appa, kau tidak berselera? Apa...tidak
enak rasanya? ” ku perhatikan wajahnya, dia masih mengunyah makanannya. “ Enak,
tentu saja enak, seperti biasa selalu enak. Aku hanya masih sedikit mengantuk. ”
aku hanya mengangguk pelan. “ Kau ingin tidur lagi setelah ini? ” tanyaku lagi.
Sepertinya aku akan sendirian lagi malam ini, pikirku.
“ Entahlah, setelah aku kenyang, sepertinya aku
ingin menemanimu dulu sampai aku tertidur dengan sendirinya. ” ujarnya sambil
terkekeh. Aku hanya menggeleng dan kembali melanjutkan makan. Selesai makan, ia
membersihkan semua peralatan makan yang kotor dan memintaku untuk duduk manis
di depan tv. Aku menurutinya dan segera melaksanakan perintahnya. Ku ambil
handphoneku dan segera mencari kontak Wendy. Segera ku telpon Wendy sembari
menunggu Seungcheol selesai memcuci piring.
“ Kau sedang sibuk hmm? Ah.. kau sedang belajar
mempersiapkan ujian akhir? Baiklah semangat semangat!! Haha terima kasih
kembali. Eumm baiklah selamat belajar, maaf mengganggumu. Annyeong~ ” ujarku
pada Wendy di telpon. Tepat sekali Seungcheol baru saja selesai mencuci piring
dan segera duduk di sampingku, merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di
pahaku.
Ku usap rambutnya perlahan, ia hanya menutup matanya
dan tersenyum. Ia mendekatkan telinganya pada perutku. “ Kau sudah kenyang,
baby? Atau kau ingin makan yang lain? Ah kau belum meminum susu, honey? ”
tanyanya beruntun, aku hanya tersenyum dan menggeleng. “ Aku masih kenyang,
nanti saja sebelum tidur. ” ucapku sambil mengusap pipinya perlahan.
Seungcheol pun mengiyakan dan kembali merebahkan
kepalanya dengan nyaman di pahaku, memejamkan mata dan menikmati usapan
tanganku pada rambut dan pipinya. “ Appa, kalau kau mengantuk dan ingin tidur,
pindah ke kamar saja, ok? Aku tidak bisa membopongmu sampai kamar kkk ”
sindirku sambil mencubit hidungnya pelan, ia pun terkekeh dan segera bangun. “
I will my queen! ” ujarnya sambil mengecu pipiku cepat dan tersenyum,
menampakkan lesung pipinya, kesukaanku. “ Jangan tidur terlalu malam dan jangan
lupa susunya. Good night baby, appa duluan ok? ” ujarnya sambil mengusap
perutku dan mengecup perutku, kemudian berlalu berjalan ke arah kamar.
Setelah Seungcheol masuk ke dalam kamar, aku pun
berjalan ke arah dapur dan mulai memakan makanan yang tersisa, puding coklat
dan segera menghabiskannya. Tak lupa aku pun meminum susu dan memakan apel
sambil menonton tv. Sejak hamil, tubuhku semakin berisi dan tidak kurus seperti
sebelum hamil. Syukurlah, ku pikir jika aku tetap kurus dan melahirkan, akan
sulit dan perlu operasi jika aku masih tetap kurus, pikirku.
Tiba-tiba telponku berdering dan ku lihat nama
kontak yang menelponku, -Wonwoo-.
Sudah lama dia tidak menghubungiku, terakhir kali
dia datang ke sini dan memberi hadiah pernikahan. Kemudian kami pun
berbincang-bincang dan beberapa kali tertawa karena beberapa obrolan yang tidak
jelas.
W: “ Aigoo noona, sebaiknya kau
memastikan dulu yang ada di handphonenya, jangan langsung memutuskan yang
tidak-tidak, ok? Jangan jadikan beban, kasihan bayimu nanti. ”
T: “ Arraseo, aku akan memastikannya besok, mungkin kkk. Baiklah, kau tidak istirahat? Ini sudah jam 9 malam. ”
W: “ Baguslah. Noona, ingat, aku bukan bayi yang harus tidur tepat waktu haha lagi pula aku sedang berada di luar bersama Hoshi dan Mingyu. ”
T: “ Ah benarkah? Baiklah, selamat bersenang-senang. Aku akan segera tidur karena kekenyangan membuatku mengantuk kkk annyeong~ bye bye ”
W: “ Baiklah noona, selamat malam dan selamat beristirahat. Salam untuk Seungcheol hyung jika ia bangun nanti haha. Annyeong too noona. ”
T: “ Arraseo, aku akan memastikannya besok, mungkin kkk. Baiklah, kau tidak istirahat? Ini sudah jam 9 malam. ”
W: “ Baguslah. Noona, ingat, aku bukan bayi yang harus tidur tepat waktu haha lagi pula aku sedang berada di luar bersama Hoshi dan Mingyu. ”
T: “ Ah benarkah? Baiklah, selamat bersenang-senang. Aku akan segera tidur karena kekenyangan membuatku mengantuk kkk annyeong~ bye bye ”
W: “ Baiklah noona, selamat malam dan selamat beristirahat. Salam untuk Seungcheol hyung jika ia bangun nanti haha. Annyeong too noona. ”
Pembicaraan kami pun selesai dan segera aku
mematikan tv dan mengunci pintu, lalu segera masuk ke dalam kamar. Kamar pun
sangat gelap hingga aku hanya melihat satu cahaya di balik selimut. “ Appa? Kau
belum tidur? ” tanyaku, tapi tak ada jawaban. Ku nyalakan lampu meja dan
terlihat suamiku tertidur nyenyak sekali. Tetapi handphonenya menyala. Segera ku
naik ke atas kasur perlahan dan ku raih handphonenya. Ku lihat ada 2 missed
call, dari –Minyoung-.
“ Minyoung? Hwang Minyoung? Ada apa ia menelpon
suamiku malam-malam begini? ” kembali rasa ingin tahuku muncul, tapi ku tahan
sejenak. “ Akan ku tanyakan besok. ” ku letakkan handphonenya di meja samping
kasur dan mulai mencoba tidur meski aku tidak mengantuk sama sekali.
=================================skip====================================
Pagi harinya aku terbangun dengan cepat karena efek
semalam sulit untuk tidur. Baru saja aku ingat bahwa hari ini adalah hari
sabtu, dan aku ingat untuk check up dan memeriksa kesehatan kandunganku.
Ku siapkan kopi dan roti panggang selai coklat
kacang untuk suamiku. Dan tepat saja ia keluar kamar dan segera mencuci muka,
menyikat gigi dan memelukku dari belakang.
“ Good morning my tiny wifey hmm ” ujarnya sambil
mengecup pipiku berkali-kali. Aku hanya tersenyum dan meminta duduk dan
sarapan. “ Hari ini bisa temani aku check up ke dokter kandungan hmm? Tidak sibuk
kan? ” tanyaku padanya saat kami berdua tengah sibuk makan makanan
masing-masing.
“ Eum? Tentu saja bisa, aku libur hari ini. Kau tahu
itu. Baiklah, jam berapa hmm? Appa siap mengantarmu kemana saja hari ini. ”
ujarnya sembari tersenyum lebar. Sepertinya tidur kemarin membantu otaknya
kembali segar. “ Nanti jam 9 kita berangkat, ok? ” dan ia pun mengangguk dan
meminum kopinya.
==================================skip===================================
Sesampainya di rumah sakit, kami pun duduk menunggu
panggilan. Sembari menunggu, aku masih sibuk berkutat dengan pikiranku tentang semalam. Sedangkan Seungcheol
kembali sibuk dengan handphonenya lagi. “ Apa itu Minyoung yang menelponnya? ”
ujarku penasaran. Kemudian disusul suster yang memanggil namaku untuk segera
masuk. Aku pun memberi kode pada Seungcheol untuk masuk, dan ia pun memintaku
untuk masuk terlebih dahulu.
Setelah di dalam, dokter mulai memeriksa
kandunganku, melihat perkembangan bayi dalam perutku. Semuanya positif,
syukurlah. Kemudian Seungcheol pun mengetuk pintu dan masuk, berdiri di
sampingku dan tersenyum ke arahku. Aku hanya menatapnya, dan kembali fokus pada
dokter. Dokter memprediksi bahwa anak yang ku kandung adalah laki-laki. Aku pun
senang, jika aku nanti memiliki dua bodyguard tampan disampingku. Ku tatap
Seungcheol tersenyum lebar dan sempat bertepuk tangan pelan. Kemudian ia
mengecup keningku dan menggenggam tanganku erat.
Perbincangan antara kami bertiga pun semakin serius.
Banyak pantangan yang diberikan oleh dokter padaku, termasuk seringnya berpikir
dan merasa setres berkepanjangan. Aku hanya mengangguk pelan dan mendengarkan dokter
dengan baik. Tiba-tiba handphone Seungcheol berdering pelan tanda pesan masuk. Ia
mengeceknya dan segera berjalan keluar tanpa mengucapkan sepatah kata padaku.
Setelah selesai, aku pun pamit pada dokter dan
berjalan pelan ke arah pintu lalu membukanya. Ku dapati Seungcheol sedang duduk
dan berbincang dengan seorang gadis. Seungcheol pun melihat ke arahku dan
terlihat gugup, kemudian ia berdiri disertai gadis itu.
Ternyata gadis itu adalah Minyoung, sahabatku. Aku sedikit
syok dan mulai menyapanya.
“ Ah annyeonghaseyo Minyoung-ah. ” sapaku padanya,
dan ia hanya tersenyum memamerkan ‘eyesmilenya’ dan merangkulku dari samping. “
Aigoo annyeong mommy Taenggo-yya~ lama tidak bertemu, aku merindukanmu. Wah,
perutmu semakin buncit dan ini sudah berapa bulan? ” tanyanya sambil ia
mempersilahkan aku duduk di antara Seungcheol dan Minyoung.
“ Ah baru hampir menginjak bulan ke 6, mungkin besok
lusa sudah bulan ke 6. Ah iya, bagaimana kau tahu aku sedang check up disini? ”
tanyaku. Minyoung hanya terkekeh pelan dan menunjuk ke arah Seungcheol. Ah, sudah kuduga, pikirku. Ku lihat
Seungcheol hanya tersenyum tipis. Mengapa
ia tidak mengatakannya padaku tadi? Malah langsung pergi keluar, batinku.
“ Dan kebetulan aku juga sedang menjenguk keponakanku
di lantai 5. Jadi sekalian saja aku kesini, iyakan Seungcheol-nim? ” ujar
Minyoung sambil menatap ke arah suamiku dengan sedikit kedipan di matanya. Ku lihat
suamiku hanya merespon dengan anggukan. Aku mulai sedikit curiga, tapi tidak
boleh begini, pikirku sekali lagi.
“ Baiklah, maaf aku tidak membawa apapun. Aku harus
segera pulang, aku ada janji kencan dengan Siwon oppa. Ok bye~ take care sayang
” ujar Minyoung cepat dan segera men-cipika cipiki pipiku dan melambai pada
Seungcheol. Ku lihat kepergiannya dengan raut wajah penuh tanya. Tapi jika ku
perhatikan, pakaian Minyoung cukup sexy untuk pergi ke Rumah Sakit dan
menjenguk ponakannya.
“ Sudah selesai hmm? Kita pulang sekarang, atau
ingin pergi ke tempat lain? ” ujar Seungcheol yang sekaligus memecahkan
lamunanku. “ A-ah? Kita pulang saja.. ” ucapku singkat dan segera berdiri. Kami
berdua pun pulang dengan hening. Tidak ada percakapan yang tercipta hingga
sampai rumah.
Sesampainya dirumah, segera ku rebahkan tubuhku dan
memejamkan mata sejenak. Seungcheol menepuk pelan pipiku, “ Aku keluar
sebentar, ada yang ingin ku beli. Dan sedikit kejutan untukmu. ” jelasnya
sembari ia mengecup keningku dan berlalu.
Ku pandangi langit-langit kamarku, aku merasakan
perasaan tidak nyaman. Lalu ku lihat di sofa, ternyata ia tidak membawa
handphonenya. Kembali rasa ingin tahu muncul. Segera aku bangun dan mengambil
handphone miliknya kemudian kembali ke kasur, duduk di pinggir kasur sambil
membuka lock handphonenya.
Mulai terasa perasaan tidak nyaman ini, rasa yang
sungguh tidak nyaman menyelimutiku. Ku buka kontak telponnya, missed call atau
telpon masuk. Sungguh mengejutkanku... Rata-rata adalah telpon masuk dari
Minyoung. Ku lihat jam jam telpon masuk itu, dan terakhir kali tadi saat di
rumah sakit. Ku cek sekali lagi, dan ada cukup banyak telpon dari Minyoung semalam,
sepertinya saat Seungcheol kembali ke kamar dan tidur lagi. Satu hal lagi yang
membuatku heran yaitu ada telpon masuk dari Minyoung pukul 14:44 KST, itu
adalah jam saat Seungcheol ijin pergi tidur. Nafasku mulai berat, timbul
pemikiran aneh, aku mulai jeli melihat semua telpon masuk dari Minyoung, juga
missed call dari Minyoung. Degup jantungku semakin cepat. Banyak sekali telpon
dari Minyoung, hingga tak satupun terlihat telpon dari orang lain, termasuk
aku.
Ku remas selimut di sampingku, rasanya ingin
menanyakan semuanya. Apa yang ia lakukan? Menelpon suamiku disaat ia kelelahan
dan ingin istirahat. Kemudian handphone Seungcheol bergetar tanda pesan masuk. Dari
–Minyoung-. “ Apa lagi ini? ”
Segera ku buka pesan dari Minyoung dan ku baca
perlahan.
From:
Minyoung
Hey,
kau sedang sibuk? Masih menemani Taeyeon?
Siwon oppa tidak bisa menemaniku jalan karena sibuk hufh.
Bisa kau temani aku jalan? Jalan-jalan saja....
Siwon oppa tidak bisa menemaniku jalan karena sibuk hufh.
Bisa kau temani aku jalan? Jalan-jalan saja....
Nafasku tercekat. Aku syok sekali lagi syok. Sungguh
di luar dugaan. Kenapa Minyoung meminta tolong pada pria yang sudah beristri? Sudah
tahu aku sedang hamil dan butuh perhatian lebih, mengapa ia begitu? Aku kembali
meremas selimutku dengan kuat.
Ku dengar mobil Seungcheol memasuki halaman rumah. Segera
ku kembalikan ke halaman utama dan menguncinya. Mengembalikan ke posisi awal
dan segera berbaring di kasur. Bersikap seperti tidak ada apa-apa.
Iya.. tidak ada apa-apa...
To be continued....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar